Kamis, 26 Mei 2011

Asal Usul Desa Mayangrejo, Kec. Kalitidu. Kab Bojonegoro

Asal Usul Desa Mayangrejo, Kec. Kalitidu. Kab Bojonegoro oleh Ashandi, (Kepala Desa Mayangrejo) pada 16 Juni 2010 jam 0:03 Pada abd XVI, ada dua orang pengembara yang memiliki kesaktian dan kelebihan masing-masing, Dua orang tersebut adalah bersaudara, yang tertua bernama R. SOPONYONO, dan yang muda bernama R. JOTRUNO. Sang kakak R. SOPONYONO mempunyai kesaktian yaitu mampu berjalan laksana hembusan dan kecepatan angin di musim kemarau (MONGSO KETIGO Bhs Jawa), Sedangkan sang adik R. JOTRUNO memiliki kesaktian yaitu menyeberang air tanpa perahu (RAMBANGAN, bhs jawa). Dua bersaudara tersebut sampailah di suatu tempat (desa Mayangrejo sekarang) adalah ingin melihat kejadian alam luar biasa di tempat tersebut, yaitu berpindahnya bengawan Solo dari timur berpindah ke sebelah barat. Ketika sampai ditempat yang dituju sang kakak mengajak sang adik melihat dari dekat ”Wahai adikku, kita tidak mungkin bisa melihat kejadian ini dengan jelas manakala kita tidak menyeberangi bengawan ini” ajak sang kakak, lalu sang adik menjawab ajakan tersebut ”wahai kakakku karena adinda adalah yang muda alangkah baik dan terhormat jika sang kakak menyebrang lebih dulu, nanti saya menyusul”. R.Soponyono pun berangkat terlebih dahulu, setelah sampai ditepian barat bengawan Solo sang kakak berteriak memanggil sang adik yang masih berada di sebelah timur dan belum menyebrang. ”Wahai adikku segeralah menyebrang!”. Karena dipanggil oleh sang kakak maka R. Jotruno pun segera menyebrang. Dan karena memiliki kesaktian luar biasa yaitu mampu berjalan diatas air tanpa memakai perahu, maka R Jotruno menyebrang dengan berjalan begitu saja. Melihat kejadian tersebut sang kakak merasa tersaingi dan tertandingi. Karena baju R. Soponyono tertinggal di seberang timur. Maka diperintahlah R. Jotruno mengambil baju (KLAMBI. Bhs jawa) yang di kaitkan disebuah ranting bambu (CARANG, bhs Jawa). Sesampai di tempat yang dimaksud ternyata baju tersebut tertiup angin hingga tersangkut pohon jati yang sangat tinggi. R. Jotruno sekali lagi menunjukkan kesaktiannya, ia memerintahkan pohon jati untuk menunduk agar R. Jotruno mudah mengambil baju tersebut. Lalu pohon jati pun menunduk, dan diambilh baju sang kakak. Sekali lagi sang kakak dibuat terkesima dan takjub atas kesaktian sang adik. Dengan merasa kalah kesaktian akhirnya R. Soponyono pamit dan memisahkan diri dengan R. Jotruno untuk bertapa di sebuah telaga hingga muksa. Dan telaga tempat muksa R. Soponyono dinamakan TLOGO SOPONYONO. Karena perpisahan tersebut tersebut membawa kesedihan yang mendalam bagi R. Jotruno. Sampailah ia bersabda: ”PERPISAHANKU DENGAN SAUDARAKU ADALAH GARA-GARA BAJU DIKAITKAN (DISLEMPETKE bhs jawa) HINGGA BAJU (KLAMBI bhs jawa) TERSANGKUT DIPOHON JATI, MAKA TEMPAT INI AKU TANDAI DENGAN SEBUAH NAMA YAITU ’’ SLEMBI” (kepanjangan ”SLEMpetne klamBI” dalam bhs Indonesia ”kaitkan baju”). Jadi SLEMBI adalah cikal bakal Desa Mayangrejo saat ini. Karena SLEMBI semakin hari semakin berkembang hingga orang menyebutnya MAYANG LEDOK. Sedangkan mengapa nama tersebut menjadi Mayang Ledok adalah sebuah nama hasil kesepakatan dari para tokoh pada waktu itu. Yang merupakan nama dari penggabungan daerah daerah disekitar Slembi, yaitu pedukuhan Ngenden, pedukuhan Talun, pedukuhan Gempol dan Pedukuhan cerabak. Pada tahun 1917 pada masa Demang WONGSOREJO orang-orang disekitar Slembi sepakat untuk bergabung antara lain wilayah Gempol, wilayah Ngenden, wilayah Talun, Wilayah cerabak(saat ini merupakan dusun dusun di Mayangrejo). Prosesi penggabungan tersebut diadakan secara besar-besaran, pesta rakyat diadakan dimana-mana. Para tetua adat dari daerah sekitar diarak dengan membawa kembang mayang menuju tempat prosesi (SLEMBI). Karena begitu meriah dan semarak serta para khalayak ramai berbondong-bondong menyaksikan prosesi tersebut. Hingga suasana hingar-bingar (REJO/RAMAI). Dengan bunga-bunga ”kembang mayang” yang dipakai mengarak para tetua adat dibuat dengan seindah-indahnya. Maka dalam puncak prosesi penggabungan tersebut para tetua adat sepakat memberi nama desa penggabungan tersebut menjadi DESA MAYANGREJO. Sedangkan Slembi adalah Dusun sebagai pusat pemerintahan. Jadi MAYANG diambil dari bunga-bunga Kembang Mayang yang begitu indahnya , sedangkan REJO diambil dari suasana prosesi penggabungan yang begitu REJO/RAMAI serta untuk mengenang nama sekaligus menghormati Mbah WONGSO REJO yang menjadi demang pada masa itu. Demikianlah cerita asal usul yang ditulis berdasarkan cerita tetua desa serta diambil dari cerita Joyoboyo BABAT ALAS PANDAN WANGI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar